Kamis, 28 April 2011

‘Antroposen’ Era Baru Manusia Menuju Tatanan Geologi




Inilah nama baru untuk kala geologi–masa yang didefinisikan oleh dampak luar biasa umat manusia pada planet Bumi. Dampak ini akan bertahan dalam tatanan geologi, lama sesudah kota-kota kita hancur.
Oleh ELIZABETH KOLBERT
Foto oleh JENS NEUMANN/EDGAR RODTMANN

Mexico City, Meksiko
Sekitar 20 juta orang tinggal di Mexico City, kawasan metropolitan terbesar kelima di dunia. Pada 1800 penduduk perkotaan di dunia hanya 3 persen. Dewasa ini 50 persen dan masih terus meningkat. Di sejumlah kota gubug yang penuh sesak, kebutuhan akan air bersih dan sanitasi sangat genting. Namun, urbanisasi juga memiliki keuntungan: Penggunaan energi penduduk kota per kapita lebih kecil dan pencemaran juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan di daerah pedesaan.

Manusia juga mengubah dunia melalui kegiatan di bidang pertanian; sekitar 38 persen tanah Bumi yang tidak tertutup es sekarang digunakan untuk pertanian. Di sini pun sebagian pengaruh yang tampaknya paling signifikan saat ini paling-paling hanya akan meninggalkan jejak yang sangat samar.
Chittagong, Bangladesh
Pemeretelan kapal menyediakan lapangan kerja bagi Bangladesh dan besi tua namun juga menghasilkan asbestos, PCB, dan bahan beracun lainnya. Meskipun daur ulang limbah biasanya marak, demikian pula produksi limbah. Di sejumlah kota Amerika dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, kedua kecenderungan ini boleh dikatakan berimbang.
-
Jalan itu mendaki bukit, melintasi sungai yang aliran airnya deras, kembali melintasi sungai lain, kemudian melewati bangkai biri-biri. Dalam khayalanku, saat itu sedang turun hujan, namun di sini di Dataran Tinggi Skotlandia di Kawasan Selatan, menurut penduduk setempat, hujan seperti ini hanya dianggap gerimis ringan, atau smirr. Tepat di balik tikungan tajam yang terakhir, ada air terjun, separuh terlindung di balik tabir kabut, dan tonjolan bebatuan bergerigi. Bebatuan itu berlapis-lapis secara vertikal, seperti kue lapis legit dengan lapisan lebar dalam posisi miring. Pemandu saya, Jan Zalasiewicz, seorang pakar stratigrafi berkebangsaan Inggris, menunjuk ke lapisan lebar berwarna abu-abu. “Pernah terjadi kejadian buruk di sini,” katanya.
Bendungan Hoover dan Danau Mead, Nevada
Bendungan menahan banjir, tanaman air (dan manusia), dan membangkitkan 16 persen listrik dunia, tanpa menghasilkan karbon. Namun, bendungan juga mengusir 40-80 juta orang serta menghancurkan ekosistem sungai. Lebih dari separuh sungai besar di dunia sekarang sudah dibendung. Beberapa di antaranya, seperti Colorado, sudah mengering. Musim kemarau yang ganas membentuk “cincin bak mandi” di Danau Mead, yang memasok air ke sebagian besar kawasan Selatan A.S.
Lapisan lebar itu terbentuk sekitar 445 juta tahun yang lalu, tatkala sedimen perlahan-lahan bertimbun di dasar lautan purba. Di masa itu, kehidupan pada umumnya masih terbelenggu di perairan, dan dalam keadaan terancam. Di antara dua lapisan abu-abu yang masing-masing setebal satu meter, sekitar 80 persen biota laut berangsur mati, banyak di antaranya jenis makhluk yang sudah punah, seperti graptolit (Graptolithina). Kala kepunahan ini, yang dikenal sebagai akhir Ordovisium, adalah salah satu dari lima kala terbesar yang berlangsung dalam kurun waktu setengah miliar tahun terakhir. Kala itu berlangsung bersamaan dengan perubahan iklim yang ekstrem, di permukaan laut global, dan dalam kimia lautan—semuanya, mungkin, disebabkan oleh superbenua yang terseret ke Kutub Selatan.

Akron, Alabama
Kudzu (Pueraria lobata), tanaman merambat asal Asia yang tumbuh pesat telah mencekik jutaan hektar lahan di Amerika Serikat sejak ditanam pada 1930-an untuk mengendalikan erosi. Tanaman eksotis yang disebarkan oleh manusia merupakan ancaman global bagi keragaman hayati. Kebanyakan spesies yang tercantum dalam daftar spesies yang terancam punah di A.S. tercantum di dalam daftar itu akibat ulah tanaman asing yang menyusup.

Ahli stratigrafi seperti Zalasiewicz, biasanya, tidak mudah percaya. Tugas mereka adalah mengkaji sejarah Bumi dari sejumlah petunjuk yang dapat digali dari lapisan bebatuan, jutaan tahun setelah lapisan itu terbentuk. Mereka mengkaji kala yang berlangsung dalam kurun waktu lama—dalam hitungan jutaan tahun, dan hanya kala yang paling ganas sajalah yang kemungkinan besar meninggalkan tanda-tanda yang jelas dan tahan lama. Kala-kala inilah yang menandai kurun waktu teramat penting dalam riwayat Bumi yang berusia 4,5 miliar tahun, titik balik yang membagi-baginya menjadi beberapa bagian yang dapat dipahami.
Jadi, memang merisaukan saat mengetahui bahwa banyak ahli stratigrafi mulai percaya bahwa kitalah yang membentuk kala itu—bahwa umat manusia telah mengubah planet ini hanya dalam satu atau dua abad terakhir dengan begitu parah sehingga kita mendesakkan kala baru: Antroposen. Sambil berdiri dalam hujan gerimis, saya bertanya kepada Zalasiewicz, seperti apakah kala ini dalam pandangan para ahli geologi yang hidup berabad-abad yang akan datang, siapa pun mereka dan apa pun yang mereka kaji. Apakah transisi ke kala baru ini bersifat moderat, seperti puluhan kala lainnya yang tercatat dalam sejarah, atau apakah kala ini akan muncul sebagai masa yang ganas yang mencatat terjadinya hal-hal teramat buruk—seperti kepunahan besar-besaran yang terjadi di akhir Ordovisium?
Menurut Zalasiewicz, itulah yang sekarang sedang diselidiki.
El Ejido, Spanyol
Pupuk dan pestisida memungkinkan hasil yang tinggi, dan tanaman pangan tanpa cacat ditampilkan pada papan iklan berbahasa Spanyol ini. Efek sampingnya sangat luas jangkauannya—limpasan nitrogen dari lahan yang dipupuk, misalnya, memusnahkan flora dan fauna di muara sungai di seluruh dunia.
Kata “Antroposen” diciptakan oleh ahli kimia Belanda, Paul Crutzen, sekitar satu dasawarsa yang lalu. Suatu hari, Crutzen, pemenang-bersama Hadiah Nobel untuk penelitiannya dalam penemuan efek senyawa penipis lapizan ozon, sedang menghadiri konferensi ilmiah. Ketua konferensi terus-menerus merujuk ke Holosen, kala yang dimulai pada akhir zaman es yang terakhir, 11.500 tahun yang lalu, dan bahwa—setidaknya secara resmi—berlanjut sampai sekarang. “Sebaiknya kita berhenti menyebutnya begitu,’” Crutzen teringat ketika menyela sambil berseru. ‘“Kita tidak lagi berada di kala Holosen. Kita berada di kala Antroposen.’ Ruangan pun senyap sejenak.” Ketika para peserta konferensi rehat kopi, Antroposen menjadi bahan obrolan utama. Ada yang mengusulkan agar Crutzen menguruskan hak cipta kata tersebut.
Di dataran tandus Spanyol selatan, tanaman pangan ditanam di dalam sederetan rumah kaca terbesar di dunia, lalu diangkut ke utara. Rumah kaca mengunakan air dan zat hara secara efisien dan menghasilkan sepanjang tahun–tomat di musim dingin, misalnya. Namun, secara global, tantangannya adalah biji-bijian dan daging, bukan tomat. Diperlukan 38 persen permukaan Bumi yang tidak diselimuti es untuk memberi makan tujuh miliar orang saat ini.
Pada 1870-an, ahli geologi Italia bernama Antonio Stoppani berpendapat bahwa manusia telah memasuki era baru, yang ditandainya sebagai antropozoik. Pendapat Stoppani dikesampingkan; ilmuwan lain memandangnya tidak ilmiah. Sebaliknya, Antroposen langsung mendapat sambutan hangat. Dampak manusia terhadap dunia telah menjadi semakin jelas sejak masa Stoppani, antara lain karena ukuran populasi secara kasar telah meningkat empat kali lipat, menjadi hampir tujuh miliar. “Pola pertumbuhan umat manusia pada abad kedua puluh lebih menyerupai pertumbuhan bakteri, bukan primata,” begitu ditulis oleh ahli biologi E.O. Wilson. Dia memperhitungkan bahwa biomassa manusia sudah seratus kali lebih besar daripada biomassa spesies hewan besar lainnya yang pernah berjalan di muka Bumi.
Pada 2002, ketika Crutzen merumuskan gagasan tentang Antroposen dalam jurnal Nature, gagasan tersebut langsung ditelaah dan didiskusikan oleh para peneliti yang tengah mengkaji berbagai bidang kajian. Tidak lama kemudian, istilah itu mulai sering muncul dalam terbitan ilmiah. “Global Analysis of River Systems: From Earth System Controls to Anthropocene Syndromes” muncul sebagai judul makalah pada 2003. “Soils and Sediments in the Anthropocene” menjadi judul utama makalah lain yang terbit pada 2004.
Museum Sejarah, Aralsk, Kazakhstan
Ikan ship sturgeon (keluarga Acipenseridae) di ambang kepunahan, dan sudah tidak ditemukan lagi di Laut Aral; pengalihan sungai menjadi perkebunan kapas telah menyusutkan danau terbesar keempat di dunia menjadi hanya cekungan berisi debu. Dalam kurun waktu setengah miliar tahun terakhir ini, dampak asteroid dan bencana alam lainnya telah memunculkan lima malapetaka kepunahan massal yang melanda flora dan fauna. Manusia mungkin menyebabkan kepunahan massal yang keenam.
Pada mulanya kebanyakan ilmuwan yang menggunakan istilah geologi baru ini bukan ahli geologi. Zalasiewicz, yang memang ahli geologi, menganggap diskusi itu membangkitkan minat. “Saya amati bahwa istilah ciptaan Crutzen itu digunakan dalam pustaka terkemuka, tanpa tanda kutip dan tanpa nada sinis,” katanya. Pada 2007 Zalasiewicz menjabat ketua Komisi Stratigrafi Masyarakat Geologi London. Dalam suatu rapat, dia memutuskan untuk bertanya kepada sesama ahli stratigrafi tentang pandangan mereka mengenai Antroposen. Sebanyak 21 dari 22 peserta rapat beranggapan bahwa konsep itu memiliki keunggulan.
Kelompok pun sepakat memandang konsep itu sebagai istilah geologi yang patut dikupas tuntas. Apakah Antroposen memenuhi kriteria yang digunakan untuk menamai suatu kala baru? Dalam bahasa geologi, kala adalah kurun waktu yang relatif singkat, meskipun dapat sampai mencakup jutaan tahun. (Periode, seperti Ordovisium dan Cretaceous, berlangsung lebih lama, sementara era, seperti Mesozoik bahkan lebih lama lagi.) Batas antarkala ditetapkan oleh perubahan yang terawetkan di dalam bebatuan sedimen—kemunculan jenis organisme yang lazim menjadi fosil, misalnya, atau hilangnya jenis organisme lain.
Gunung Kayford, West Virginia
Tatkala perusahaan minyak mengebor semakin dalam untuk memperoleh minyak lepas pantai, perusahaan pertambangan beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu untuk meratakan puncak pegunungan Appalachia untuk menambang batubara, yang memasok separuh listrik A.S. Puncak gunung ini rata dalam waktu satu hari. Sekitar 470 puncak gunung sudah diratakan sejak 1980-an; limbahnya sering kali menimbun sungai. Padahal, perataan puncak gunung hanya berhasil menambang 6 persen deposit batubara.
Bukti bebatuan saat ini tentu saja belum ada. Jadi, pertanyaannya adalah: Saat nanti bebatuan itu sudah terbentuk, apakah dampak ulah manusia akan muncul sebagai sesuatu yang “signifikan dari segi stratigrafi”? Jawabannya, menurut kelompok Zalasiewicz, ya—meskipun belum tentu dengan alasan yang kita duga.
Mungkin cara paling kasat mata dalam hal ulah manusia yang mengubah Bumi adalah pembangunan kota, yang pada dasarnya menggunakan banyak sekali bahan buatan manuisa—baja, kaca, beton, dan batubata. Namun ternyata kebanyakan kota tidak dapat bertahan lama untuk jangka panjang karena alasan sederhana, yakni bahwa kota dibangun di atas tanah, dan tanah cenderung lebih cepat tergerus, bukan mengalami proses sedimentasi. Dari kajian geologis, pengaruh ulah manusia yang paling kasat mata di permukaan Bumi saat ini “mungkin dari segi tertentu merupakan pengaruh sementara,” begitu menurut pengamatan Zalasiewicz.
Pantai Tuscani menampilkan drama bercorak tentang manusia dan laut. Pasir ‘Tropis’; bukan pasir alami; warnanya putih karena karbonat dari pabrik kimia, yang juga meluahkan merkuri belum lama ini. Pabrik itu mengubah garam yang diekstraksi dari laut menjadi klorin dan produk penting lainnya. Bahan bakar fosil menjadi tulang belakang perubahan tersebut; di seluruh dunia, CO2 dari cerobong asap pabrik dan knalpot kendaraan secara lambat mengasamkan lautan, dan mengancam kehidupan biota laut.
Minyak mengubah Dubai pada 1970-an. Kota itu sekarang membanggakan gedung tertinggi di dunia, pusat pertokoan raksasa, dan sekitar dua juta penduduk, yang mengandalkan air laut desalinasi dan penyejuk udara dan dengan demikian mengandalkan energi murah untuk hidup di gurun Arab.
Oleh :

0 Komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More